Inovasi menarik dilakukan sejumlah alumni Teknik Perkapalan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Agus Triharsito, Direktur Utama PT Barokah Marine Pekalongan, menciptakan kapal dari bahan pralon. Berbeda dengan kapal kayu atau baja, kapal pralon jauh lebih ringan, lebih murah, lebih tahan lama, dan mampu menyusuri perairan dangkal.

Kapal pralon pertama di Indonesia ini bahkan diberi nama Baruna Fishitama oleh Menristek Dikti M Natsir, saat berkunjung ke Pekalongan, Maret 2016 lalu.

Saat itu, kapal pralon sedang dibangun di galangan milik PT Barokah Marine. Kapal pralon ini juga sudah dipresentasikan kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Menurut Agus Triharsito, kapal pralon dengan panjang 17 meter dan lebar 4,2 meter ini dibuat dari 60 buah paralon berdiameter 14 inchi dan 12 inchi.

“Satu unit kapal pralon dapat diselesaikan dalam waktu 2,5 bulan. Kapal dengan mesin 70 PK ini mampu mengangkut ikan maksimal 3,5 ton,” ujar Agus.

“Selain lebih hemat BBM, kapal ini juga dapat meluncur di daerah dangkal,” kata Agus.

Kapal ini berbahan baku ramah lingkungan karena hanya 10 persen bagiannya berbahan kayu.

Dadit Prasetyanta dari Teknik Perkapalan Undip menambahkan, Kapal Pralon Baruna Fishitama sudah diuji coba dan mendapatkan sertifikasi dari syahbandar dan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

“Sekarang kapal itu sedang melaut di sekitar Pantai Pekalongan sebagai uji kelayakan ekonomi,” ujar Dadit.
Dalam uji coba, kapal pralon ini mampu menembus cuaca buruk. Saat kapal lain tidak berani melaut, 8-9 September lalu, kapal pralon ini justru mencoba menghadapi badai. Nahkoda kapal, Abdurahman, mengaku kapal pralon ini diterpa badai selama tujuh jam.

“Selama badai, kondisi kapal tetap kuat, tidak ada masalah. Padahal angin kencang, dan ombak besar,” ucap Abdurahman.

Kapal pralon ini dibuat dengan bahan baku 80 persen lokal sementara mesin masih diimpor. Nantinya, kapal pralon ini akan dikembangkan lagi oleh PT Barokah Marine dan Teknik Perkapalan Undip.

Keunggulan utama kapal pralon ini adalah ringan dan hemat BBM, manuver lebih lincah, murah, aman karena tidak mudah tenggelam, stabil, dan ramah lingkungan.

Kini, Teknik Perkapalan Undip sedang melakukan penelitian agar kapal pralon ini lebih efesien dan memiliki kemampuan struktur lebih baik.

Kapal pralon ini mulai dilirik berbagai kalangan, terutama untuk kapal penangkap ikan.

“Pesanan sudah mulai masuk. Tahun depan, akan banyak kapal pralon yang akan menghiasi lautan Nusantara,” ujar Dadit.

Alumni Teknik Perkalapan Undip akan menggelar reuni di kawasan Ancol, 3 Desember mendatang. Selain mengikuti acara Reuni Akbar Undip, mereka juga akan menggelar acara tersendiri.

BERITA DITERBITKAN TRIBUNNEWS.COM PADA Kamis, 27 Oktober 2016 16:26 WIB